Ide Itu Universal

Similar Bukan Berarti Sama

Adanya kesamaan rasa yang mungkin berasal dari similaritas ide. Similar, bukan berarti seratus persen sama. Karena ide yang ditemukan tidak mungkin sama persis, karena cara eksplorasi dan latar belakang kemampuan berpikir setiap orang berbeda-beda.

Mendaur ulang ide adalah hal menantang dan mengasyikkan untuk dilakukan. Setidaknya itu yang aku secara personal merasakan sebagai seorang desainer visual.

Di dalam desain logo, simaliritas pun kerap terjadi. Logo yang dibentuk dari bentuk dasar terkadang menimbulkan kesan generik. Perlu sentuhan ekstra untuk mengembangkan ide pokok pembuatan logo yang berangkat dari bentuk dasar agar memiliki nilai pembeda. Salah satu nilai yang seharusnya dimiliki sebuah logo.

cak-rasa_ilustrasi_logosimilar_vodafone_target_beats_bebo_pinterest
Contoh Logo yang Similar

Logo yang generik tersebut tidak bisa dibilang plagiat satu sama lain. Karena bisa saja hal itu dikarenakan mengambil bentuk dasar yang dijadikan fondasi sama. Bisa juga sang kreator menemukan ide setelah melihat karya cipta logo yang sudah ada. Terinspirasi. Bukan plagiat. Pembahasan mengenai logo yang terlihat similar akan dibahas lebih jauh di Logo Generik: Plagiat atau Terinspirasi.

Pernahkah melihat suatu karya cipta yang terlihat similar? Merasa suatu karya cipta sama, atau setidaknya similar, dengan apa yang pernah ada di dalam benak kita? Mungkin sebagian besar dari kita pernah mengalaminya. Membiarkan ide itu hanya berkelindan dalam pikiran tanpa pernah menkonkretkannya pada sebuah karya cipta. Membuat ide tersebut murah. Kesamaan ide pokok memang bisa terjadi, tetapi itu hanya sebatas similar, bukan berarti sama persis.

Kesimilaran itu bisa jadi dikarenakan memiliki kesamaan ide dari objek yang menjadi inspirasi terciptanya suatu karya. Aku coba bergeser ke dunia desain karakter. Pasti mayoritas dari kita mengetahui Digimon (Digital Monster) dan Pokémon (Pocket Monster). Keduanya memiliki ide pokok yang sama, yakni bagaimana petualangan manusia dan monster yang memiliki suatu ikatan berjuang bersama mengalahkan tokoh antagonis. Perbedaan yang mendasar dari ide pokok tersebut adalah monster pada Pokémon diposisikan sebagaimana makhluk nyata yang ada di dunia. Sementara di dunia Digimon, monster yang ada berasal dari dunia digital. Bentuk-bentuk monster yang didesain pun beberapa mengandung kesimilaran bentuk maupun kekuatan, seperti Ninetales dan Kyubimon yang merepresentasikan sosok Kyubi; rubah ekor delapan dalam mitologi Jepang. Silakan baca artikel Pokémon Versus Digimon: Sebuah Komparasi untuk bahasan lebih luas seputar kedua merek waralaba tersebut.

Contoh Similaritas Kyubimon (Digimon), Kyubi, dan Ninetales (Pokemon)

Seperti yang telah disinggung sebelumnya dalam mentransformasi ide pokok yang masih abstrak menjadi sebuah karya cipta membutuhkan proses yang tidak singkat. Sekali lagi, proses. Ya, proses adalah tahap melatih diri agar menjadi lebih sensitif terhadap penerjemahan suatu ide pokok. Ibarat mata pisau, semakin diasah semakin tajam. Semakin efektif mengefisienkan waktu ketika eksekusi.

kebanyakan orang cuma melihat pencapaiannya saja. mereka tidak pernah peduli pada yang kita lalui untuk mencapai hasil itu.

— Michael Jackson

Itulah yang kerap terjadi. Dalam keseharian kita kerap menampilkan sesuatu yang ingin orang lain lihat dan kagumi, dan berupaya menyembunyikan perjuangan (proses) untuk mewujudkannya. Tak heran sering mendengar “wah, enak ya jadi kamu” keluar dari orang-orang yang pandai mengukur, bukan bersyukur. Ketidaktahuan mereka akan berapa banyak ujian suatu tokoh atau kreator ternama menyebabkan mereka berpikir keberuntungan jadi satu-satunya penentu keberhasilan.