Ide Itu Universal

Dua tokoh dunia pun memiliki ungkapan yang berkaitan dengan ide. Pablo Picasso mengatakan bahwa seniman bagus menjiplak, seniman hebat mencuri (good artists copy, great artists steal). Sementara Albert Einstein pun mengatakan kreativitas itu menular, teruskan (creativity is contagious, pass it on).

Dari dua kutipan para tokoh dunia di atas memberikan gambaran bahwa suatu ide itu bisa didaur ulang. Sebuah karya cipta (hasil seni) bisa saja terinspirasi dari karya cipta lainnya. Seorang kreator yang baik akan melihat gaya pada karya cipta orang lain, kemudian ia mencoba dan meniru gaya itu sedekat mungkin. Meniru yang dimaksud adalah berlatih, bukan plagiat. Austion Kleon (2015) dalam Steal Like An Artist menulis meniru berarti mengutak-atik, seperti montir yang membongkar mobil untuk mencari tahu cara kerja mesinnya.

Sementara seorang kreator hebat akan memilih-memilah elemen dari karya cipta yang sudah ada dan memadupadankannya menjadi ciri khas dirinya sendiri. Coco Chanel, dikutip dalam Rod Judkins (2017), mengatakan bahwa agar tidak tergantikan oleh orang lain, kamu harus selalu berbeda.

Seseorang dalam mencari, menemukan, memilah, memilih, mengembangkan, kemudian mengolah ide menjadi karya cipta butuh proses. Ingat, ide yang mahal adalah ide yang berhasil menjadi suatu karya cipta. Semua manusia berproses dalam mengembangkan kemampuan berpikir kreatif guna menjaring ide-ide yang bertebaran di dunia ide. Kreativitas, dalam hal ini ide, menular.

Sama halnya ketika manusia baru dilahirkan ke dunia, ia mengalami perubahan lingkungan. Selama kurang lebih lima bulan—sejak roh ditanamkan ke raga—di dalam rahim sang bunda, ia kemudian harus beradaptasi dengan lingkungan luar yang sangat berbeda. Ide untuk mulai menyesuaikan diri dimulai. Ide untuk mengungkapkan keinginan atau informasi kepada orang lain lewat gerakan maupun tangisan. Seiring dengan berjalannya waktu kemampuan berpikir kreatif kita semakin berkembang.

Seorang anak kecil akan melakukan duplikasi terhadap apa pun yang ada di lingkungan sekitarnya. Mata anak selalu mengamati, telinga menyimak, dan pikirannya mencerna apa pun yang terjadi di sekitar. Anak adalah peniru ulung. Semakin meluas lingkup lingkungan yang dijamahnya, semakin banyak stimulus yang didapat dan membentuk karakternya.

Bukankah kita pernah berperan sebagai peniru sepanjang hidup? Kita belajar menulis dengan meniru abjad. Seorang koki belajar meniru, bahkan mungkin menggabungkan, resep makanan yang sudah ada. Seorang musisi belajar bermusik dengan latihan tangga nada atau chord milik musisi idolanya.

Kurang lebih seperti itulah gambaran bagaimana seorang kreator berproses, berawal dari kreator yang baik hingga menjadi kreator hebat pada akhirnya. Ditempa oleh proses pengembangan diri dan kemampuan berpikir kreatifnya.

Penulis Wilson Mizner, dikutip oleh Austin Kleon (2015), mengatakan jika kamu meniru dari satu penulis itu namanya plagiat, akan tetapi jika kamu meniru dari banyak penulis itu namanya riset. Ya, ungkapan itu terdengar masuk akal. Jika hanya satu orang yang kita jadikan panutan, maka karya cipta dihasilkan tak berkembang dan akan terkesan kita menjadikan penerus panutan tersebut. Beda halnya jika kita menjadikan ratusan orang sebagai panutan, banyak warna yang akan ditangkap sehingga menghasilkan warna kita sendiri nantinya. Ringkasnya, bila kita menyukai dan mempelajari banyak hal yang beragam, mereka akan terhubung dan saling terkait, dan siapa tahu akan melahirkan ide baru hasil dari daur ulang ide.

Mulailah meniru yang kamu suka. Tiru, tiru, tiru, tiru. Suatu saat kamu akan menemukan dirimu sendiri.

— Yohji Yamamoto

Tidak ada yang salah dari proses meniru. Akan tetapi, jangan hanya gaya yang ditiru, perlulah menggali pemikiran di baliknya. Hal itu berguna untuk mengembangkan pemahaman tentang bagaimana cara mereka memandang dunia. Menemukan ide yang berserakan di sekitar.

Beberapa contoh, dikutip dari Creativethinkinghub.com, yang dapat kita pelajari dan mungkin akan menginspirasi:

  • Google bukanlah perusahaan pertama yang menciptakan sebuah mesin pencari (search engine). Meskipun terlambat, Google mengambil konsep mesin pencari dan menerapkan tampilan/antarmuka yang sangat sederhana. Ditambah dengan pemograman unik yang secara konsisten memberikan hasil pencarian sangat baik.
  • iPad hasil produksi Apple pun bukanlah tablet pertama. Toshiba dan perusahaan lain telah memproduksi perangkat tablet hampir satu dekade lebih dulu. Tim iPad mengambil konsep dari tablet dan membuatnya menjadi sesuatu yang bekerja sangat baik, setipis wafer, dan tampak keren.
  • Waralaba film Star Wars yang diciptakan George Lucas pun memadukan fiksi ilmiah terbaik dengan kisah-kisah lama tentang pertempuran antara kebaikan dan kejahatan.

Jika menelusur di internet, alat pertama yang digunakan untuk mencari konten di internet adalah Archie. Diambil dari “archive” tanpa menggunakan “v”. Archie dibuat oleh Alan Emtage pada tahun 1990. Archie merupakan alat yang berisi kumpulan file indeks di internet. Google sendiri muncul pada tahun 1997, lebih muda dari Yahoo! yang sudah lahir sejak 1994.

iPad pun aku akui merupakan perangkat tablet termutakhir sejauh ini. Bagaimana tidak, produk keluaran apel digigit itu memiliki kemampuan bukan hanya untuk mengolah data, tetapi juga mampu menunjang pengolahan grafis, seperti membuat vektor menggunakan Adobe Illustrator. Serasa menggunakan drawing tablet seperti Wacom Cintiq.

Star Wars pun berdasarkan artikel-artikel yang kubaca, banyak mengambil ide dari karya-karya fiksi ilmiah. Salah satunya adalah Dune. Dune merupakan novel yang ditulis oleh Frank Herbert pada tahun 1965. Lucas sering mengakui bahwa Dune sebagai inspirasi. Draf awal naskah Star Wars pengaruhnya jauh lebih terlihat jelas. Sebagian besar ide George Lucas diwariskan dari Frank Herbert, bagaimana menggunakan fiksi ilmiah untuk menciptakan mitos. Untuk daftar beberapa “ide yang dipinjam” dalam Star Wars bisa kamu baca di Moongadget.com.

ide itu universal - Ilustrasi Starwars dan Dune Karya Justine Shaw
Ilustrasi Star Wars dan Dune karya Justine Shaw, ©1999

Lalu siapa yang tidak mengenal Thor dalam dunia superhero Marvel? Kalau kita telisik lebih jauh, dari penamaan tokoh fiksi tersebut pun “meminjam” nama salah satu dewa Mitologi Nordik. Meskipun sama-sama putra Dewa Odin dengan senjata palu Mjolnir, perawakan Thor milik Marvel berbeda dari sosok Thor dalam Mitologi Nordik yang berambut dan berjanggut merah Stan Lee dan Jack Kirby melakukan daur ulang ide itu menjadi suatu karya cipta yang berbeda.

Selain Thor, siapa yang tak kenal Doctor Strange, pahlawan super Marvel lainnya. Stephen Strange dalam salah satu film solonya menjebak Dormammu dalam sirkum waktu tak terbatas untuk melakukan proses tawar menawar. Ia melakukannya dengan bantuan Eye of Agamotto. Dalam kepercayaan umat Hindu dan Buddha terdapat Kalacakra (roda waktu) yang berkekuatan untuk memutar waktu mundur dan maju serta memanipulasinya dengan berbagai cara. Bentuk Kalacakra pun sekilas identik dengan perisai mistik yang diproyeksikan oleh Doctor Strange.

ide itu universal - tampilan Kalacakra dan perisasi mistik Doctor Strange
Tampilan Kalacakra dan Persisai Mistik Doctor Strange

Dari poin pembahasan ini dapat diketahui bahwa semua ide baru hanyalah campuran atau leburan dengan satu ide pokok atau lebih. Mari mendaur ulang ide!