Ide Itu Universal

Ide itu intangible. Tidak dapat diukur. Oleh karenanya jika kita diminta untuk menilai suatu ide akan memunculkan potensi menyebabkan terjadinya perdebatan yang panjang. Bagaimana mungkin kita menilai sesuatu yang kasat mata? Aku berkeyakinan bahwa sejatinya cara untuk menilai suatu ide adalah perwujudannya dalam bentuk karya cipta.

Menjawab pertanyaan di paragraf awal mengapa kita merasa suatu karya cipta sama dengan yang lainnya, kemungkinan karena sang kreator mendapatkan ide pokok serasa. Bisa dibilang “terinspirasi”. Terstimulus.

Beberapa Contoh Ide yang Sama

Proses pencarian, penemuan, penerjemahan, dan pengolahan sebuah ide yang kemudian dijadikan ide pokok dan mengembangkannya menjadi ide-ide pendukung tidaklah mudah. Butuh waktu dan kemampuan berpikir kreatif.

Misalnya ide pokok untuk sebuah iklan produk pakaian yang mengomunikasikan “cintai alam”. Aku ambil dua merek produk pakaian yang setidaknya pernah membuat karya cipta tentang ide pokok “cintai alam” di tahun 2021 ini. Berikut iklan “cintai alam” karya Levi’s dan Adidas.

https://www.youtube.com/watch?v=7YhydjSnuL4
Iklan Levi’s Buy Better, Wear Longer
https://www.youtube.com/watch?v=WCC0fh-zcSY
Iklan Adidas Stan Smith, Forever

Dari kedua iklan tersebut kita dapat melihat bahwa meski memiliki ide pokok yang sama “cintai alam”, tetapi mampu dikemas menjadi karya cipta berbeda. Gaya visual yang ditampilkan keduanya memiliki rasa yang berbeda. Levi’s, menurutku, mengikuti gaya motion graphics tren 2021 dimana terdapat tipografi dan montase beberapa objek. Visual yang dipadukan selaras dengan dentuman beat backsound dapat menarik perhatian audiens daripada hanya mengalkan musik atau sulih suara (voiceover). Sementara untuk Adidas, dalam perspektifku, ingin lebih menekankan visi mereka memerangi limbah plastik dengan mendukung gerakan End Plastic Waste. Ada kesan dinamis dan teknologi di beberapa scene komersial di atas. Yang menarik bagiku ada scene seorang perempuan bermeditas sebagai representasi dari mendengar dan menyatu dengan alam. Hal itu selaras dengan apa yang dilakukan oleh Adidas dengan meluncurkan sejumlah sneaker Stan Smith yang lebih lestari.

Bergeser sedikit ke ranah lain, ide cerita dari sebuah film atau serial. Sebagian besar dari kita pasti sudah menonton serial Squid Game di Netflix dan mengetahui salah satu permainan mereka “Lampu Merah, Lampu Hijau” (Red Light, Green Light). Akan tetapi mungkin tidak banyak yang pernah menonton As The Gods Will yang merupakan adaptasi dari manga Kami-sama no Iu Tōri karya Muneyuki Kaneshiro dan diilustrasikan oleh Akeji Fujimura.

Terlepas dari unsur plagiarisme—karena banyak yang menyatakan banyaknya kemiripan—antara Squid Game dan As The Gods Will, kita bisa melihat apa itu ide pokok antara keduanya. Keduanya mengangkat perpaduan antara permainan mematikan (death game) dan permainan tradisional (traditional game). Ya, dua judul karya cipta tersebut menurutku berhasil. Mungkin nanti akan aku bahas lebih lanjut dalam tulisan Squid Game: Sebuah Plagiarisme.

Pada ranah karya cipta berbentuk sastra/tulis, mungkin ada yang masih ingat novel Surat Kecil untuk Tuhan karya Agnes Davonar yang terbit sekitar tahun 2008. Novel tersebut dikatakan mengambil kisah nyata dari kumpulan surat remaja perempuan penyintas kanker jaringan lunak (Rhabdomyosarcoma). Film Surat Kecil untuk Tuhan ketika tayang pada 2011 dituduh plagiat Letter to God (2010).