Ide Itu Universal

Ide yang Murah Itu . . .

Dari sub pembahasan sebelumnya sudah disinggung sedikit bahwa ide yang mahal itu adalah ide yang sudah berhasil dieksekusi menjadi suatu karya cipta. Secemerlang apapun ide yang seseorang miliki pasti akan memudar dan menguap begitu saja tanpa eksekusi nyata. Maka ide tersebut menjadi murah karena telah ditemukan dan hadir secara sia-sia tanpa memiliki wujud berupa karya cipta.

Ada banyak hal yang membuat sebuah ide itu menjadi murah bahkan tidak ada harganya. Tentu saja di luar ide yang tidak menjadi suatu karya cipta.

Sebrilian apapun ide yang hadir, jika berada di tangan tidak tepat akan menjadi murah. Seperti yang telah disebutkan di atas ide itu murah atau mahal bergantung bagaimana kita memosisikan dan mengondisikannya.

Seorang desainer grafis, misalnya, memiliki kemampuan untuk memvisualkan suatu ide menjadi suatu karya. Logo salah satunya. Sayangnya, di pasar terdapat rivalitas penjaja jasa desain logo. Harga yang ditawarkan pun bervariatif. Akan tetapi, sejauh yang bisa aku yakini sampai hari ini “ada harga, ada kualitas”. Ada yang memiliki ide pasaran dan dalam eksekusinya menutupi kegeneralan logo karyanya. Harganya pun bisa lebih tinggi. Adapula yang ide brilian, sayangnya dalam memvisualkannya masih belum maksimal. Hal itu menyebabkan harganya turun. Belum lagi perusahaan atau organisasi yang mengadakan sayembara desain dengan beberapa persyaratan, salah satunya “hasil desain menjadi hak milik penyelenggara” bagi sebagian kalangan itu adalah sebuah pencurian. Ide yang dicurahkan menjadi murah karena diberikan kepada pihak lain secara “cuma-cuma” dan tanpa persetujuan semacam royalti. Jangankan royalti, tidak ada kepastian dibayar di dalam sebuah kontes. Padahal sudah mengorbankan banyak waktu, tenaga, pikiran, dan energi.

Karena persaingan tinggi, maka kualitas dari eksekusi ide tersebut menjadi menurun. Alhasil karya cipta yang diikutsertakan menjadi generik dan sudah banyak ditemukan praktik plagiarisme. Nanti pembahasan ini akan dikulik lebih jauh dalam Sudahi Keinginan Mengikuti Kontes Desain Sekarang! dan Desain Grafis atau Desain Gratis.

Kok Sama?

Pernah terlintas pikiran mengapa suatu karya cipta terasa sama? Pernah terbesit anggapan suatu karya cipta serupa dengan yang lain? Atau mungkin kita pernah bertanya mengapa kok kesannya seperti copy paste? Pasti masih banyak pertanyaan yang menyeruak keluar dalam pikiran jika kita mencerna suatu karya cipta, terlebih tentang ide itu sendiri.

Nah, secara sederhana yang menyebabkan adanya kesamaan “rasa” suatu karya cipta itu dikarenakan ide itu universal. Setidaknya itu menggambarkan bahwa siapa pun dapat menemukan ide yang sama dari dunia ide, hanya saja ada berbeda tangan pengemasnya. Ada yang menjadikan ide itu mahal, ada pula yang menghancurkan ide menjadi murah. Ide itu murah atau mahal relatif, bergantung pada tangan pengolahnya.

Aku percaya dan berkeyakinan bahwa tidak ada “ide” yang jelek. Itu karena ide berasal dari dunia ide yang segala sesuatunya sempurna dan abadi. Yang membuat eksekusi ide tidak berjalan sebagaimana mestinya adalah manusianya. Manusianya yang “jelek”. Manusianya kurang berhasil menerjemahkan ide yang ditemukannya dalam bentuk karya cipta.