Ide Itu Universal

Ide Itu Murah atau Mahal?

Meskipun ada yang disebut dunia ide dan dunia indrawi dalam Teori Idea Platon, ide dapat diwujudkan ke dalam dunia nyata dengan kemampuan manusia menghadirkannya. Maka tidak mengherankan jika dunia ini menjadi berkembang dan bayangan-bayangan ide yang tersusun dalam suatu kesatuan yang menakjubkan. Ide-ide bersifat abadi.

Pasti sebagian besar dari kita pernah mendengar ungkapan “ide itu mahal”. Apakah kamu setuju dengan ungkapan tersebut? Atau justru kamu kontra dengan frasa tersebut? Kita bebas untuk memilih sesuai dengan perspektif dan keyakinan masing-masing.

Menurut perspektif pribadi, ide itu murah atau mahal bergantung bagaimana kita memosisikan dan mengondisikannya. Ide bisa didapatkan dari berbagai sumber, seperti dengan membaca buku, membaca artikel jurnal ilmiah, berdikusi, mengikuti seminar, mengamati fenomena di masyarakat, dan masih banyak lagi. Ya, sesungguhnya semua orang dilahirkan dengan kemampuan menghasilkan ide.

Ide yang Mahal Itu . . .

Proses mentransformasi ide menjadi karya cipta pasti akan melalui serangkaian proses berpikir yang logis. Seringkali dalam rangkaian proses tersebut realisasinya akan memerlukan upaya secara terus menerus (kontinuitas) sehingga kerap terjadi antara ide awal yang muncul di benak dan karya cipta saling berkesesuaian. Ada kemungkinan terjadi penyesuaian ide awal agar karya cipta tersebut memiliki kesan “ekslusif” dan “inspiratif”.

Ide itu akan menjadi mahal jika kita memosisikan dan mengondisikannya sebagai suatu kekayaan intelektual, seperti hak cipta atau paten. Ya, ide pokok maupun turunannya itu bisa dilindungi oleh hukum. Singkatnya, Ide itu mahal jika berhasil diwujudkan menjadi suatu karya cipta. Mengapa? Seperti yang sudah disinggung bahwasemua orang dilahirkan dengan kemampuan menghasilkan ide. Setiap orang dikaruniai otak untuk berpikir. Akan tetapi, tidak semua orang memiliki tingkat kreativitas yang sama dalam menghasilkan ide-ide fantastis. Sayangnya, tidak semua orang mampu merealisasikan ide-ide dalam pikirannya. Gampang-gampang susah mencari ide pokok, menangkapnya, kemudian menerjemahkannya ke dalam bentuk karya cipta.

Ide yang telah menjadi karya cipta memiliki nilai ekonomi dan berpotensi menjadi sumber penghasilan. Menghasilkan uang. Ide tersebut pun pada akhirnya akan memiliki manfaat bagi orang lain. Ide-ide menghubungkan manusia.

Seringkali—sadar atau tanpa sadar—terjebak di dalam sebuah paradigma: aku ingin ide yang unik atau konten yang tidak umum (belum pernah ada) untuk menghindari kompetisi. Sayangnya, paradigma tersebut kerap membuat kita menghabiskan waktu berhari-hari bahkan berbulan-bula dan bisa jadi bertahun-tahun hanya demi sebuah ide yang unik. Akan tetapi, setelah proses “perenungan” tersebut dan hendak mengimplementasikannya, ternyata ide tersebut sudah lebih dulu digunakan oleh pihak lain.

Dapat kita ketahui bahwa ide yang sekadar khayalan atau angan-angan atau mimpi tidak akan memberi manfaat. Ide yang mahal itu sudah pasti adalah ide yang sudah berhasil dieksekusi. Mungkin jika boleh mencomot tagline/semboyan salah satu merek yang terkenal dengan “swoosh” dewa bersayap: “Just Do It!”. Sebuah kalimat yang terinspirasi oleh kalimat terakhir Gary Gilmore saat menghadapi regu tembak. Jadi, segera eksekusi idemu agar bisa menjadi suatu karya cipta!